EKSPERIMEN DIRI HARI INI DARI KEMARIN

Hai pembaca yang budiman.

Apa kabar? semoga selalu dalam keadaan baik dan semoga Tuhan selalu memberkati kalian.

Senang rasanya ada waktu dan keinginan untuk bisa menulis kembali.
Tepat hari ini, hari yang akan selalu ku ingat dalam setiap perjalanan hidupku untuk kemudian hari. Hari ini adalah hari dimana perusahaan pertanianku mendapatkan ijin berdiri dan memulai ekspor dan impor (akan kuperlihatkan seperti apa perusahaanku dilain kesempatan). Hari ini juga mengakhiri kegagalanku yang ke 38 dalam perjalanan mengembangkan bisnis dalam hidupku.

Awal perjalanan ini ku mulai saat aku masih duduk di semester 1. Pada saat itu aku sudah bertekad untuk tidak terlalu bergantung pada orang tua, atau istilahnya aku ingin berdiri sendiri. apa alasan aku melakukan hal itu? Alasannya sangat bodoh menurutku jika harus kuceritakan. Tapi biarku beritahu sedikit tentang hal itu. Aku ingat, pada hari itu, hari dimana tabunganku benar-benar habis, nyaris tak bersisa sepeserpun. Sebenarnya sewajarnya seorang anak, aku bisa meminta uang untuk bekal pada kedua orang tua-ku. Tapi hati kecilku menolak hal itu, bukan ego atau sombong, hanya saja ada rasa malu yang teramat sangat dalam hatiku. Dari rasa malu itu aku mengenal satu teman yang baik yaitu PERSEVERANCE.

Oh iyah sebelumnya aku berkuliah di UIN Bandung dengan hasil kerjaku sendiri yang ku tabung selama dari SMA. Orang tuaku bukan orang yang tidak berada, karena kami bisa dibilang keluarga yang berkecukupan. Pertama kali aku kuliah, orang tuaku selalu mengirimiku uang tiap bulan, tapi aku tak pernah bilang pada mereka jika uang yang selalu mereka kirim, sampai detik ini, aku tak pernah menyentuhnya. Aku tabung uang itu dan aku simpan untuk masa tua mereka nanti.

Bagaimana aku bisa kuliah dan bertahan dikota yang sebesar Bandung sampai hari ini? Aku hidup sendiri disini, membiayai semuanya sendiri. Pada awal semester 1, aku mulai memutar otak ku agar aku punya uang

Hal ke-1 yang kulakukan adalah mencari kerja sampingan, kebetulan pada waktu itu aku mendapatkan sebuah pekerjaan menjadi tukang cuci piring di salah satu restoran Jepang di Bandung. Aku mulai bekerja dari jam 4 sore sampai jam 10 malam dengan upah yang bisa dibilang sangat kecil namun itu cukup untukku. Selama dua bulan aku bertahan disana, hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar karena ada beberapa hal yang tak bisa kujelaskan.

Hal ke-2  setelah dari sana, aku memiliki cukup uang yang bisa dibilang lumayan. Aku memberanikan diriku untuk membuka usaha keripik melinjo, bahan bakunya aku dapatkan dari warga desa yang kebetulan desa tersebut adalah desa binaan yang ku kembangkan. Aku berjudi dengan nasibku, tanpa tahu seperti apa resiko yang kuambil, selama sebulan aku menekuni usaha tersebut bahkan aku menyulap kamar tidurku menjadi ruangan dapur yang berisi kompor, katel, kardus dan segala macam alat dapur. cipratan minyak dimana-mana menjadi hiasan dinding kamarku. Selama 3 bulan perkembangan bisnis ini memang menguntungkan tapi aku butuh uang lebih besar untuk membayar semesterku.

Hal ke-3 Aku kembali mencari kerja sampingan untuk modal usahaku, waktu itu aku menjadi kurir ekspedisi di salah satu perusahaan ekspedisi di buah batu. Disini aku merasa sangat nyaman, karena gaji yang kudapatkan lumayan besar dan jika kuperhitungkan, aku bisa menyimpan uang untuk membayar semester depanku kelak. Namun satu hal terjadi. Pada hari itu aku berbuat kelalaian yang cukup fatal. Aku mempercayakan pengantaran ekspedisi pada salah seorang temanku di kantor, karena pada hari itu aku sedang menjalani UTS di kampusku. Aku harus belajar dan aku harus lulus tes tersebut. Hari itu terjadi kecelakaan yang diakibatkan oleh temanku tersebut. Dia menabrak pengendara motor. Alasannya karena dia mengantuk, hari itu juga aku harus bertanggung jawab pada si pengendara motor tersebut, kenapa aku? karena aku yang menyuruh temanku tersebut. Singkat cerita, aku habiskan tabunganku untuk ganti rugi pada si pengendara motor tersebut, dari mulai biaya pengobatan hingga biaya perbaikan motor. Dan akhirnya aku menerima surat pemecatan dari kantorku. Aku berpikir karirku usai, dan uang tabunganku habis. Aku berpikir sempat ingin menyerah, tapi hatiku berontak dan terus berteriak agar tidak menyerah.

Hal ke-4 Aku menjual semua barang-barang yang ada dikosanku yang menurutku layak dijual untuk mengumpulkan modal dan memulai hidup kembali. Aku mulai mencari part-time setelah selesai UTS-ku, kebetulan aku mendapatkan perkerjaan sebagai tukang antar pizza, disalah satu mall terkenal di Bandung. Aku benar-benar nyaris tak tidur, karena terlalu pusing berpikir tentang biaya untuk uang semester yang sebentar lagi harus dibayar sementara uangku tak cukup. dan pada waktu itu aku mendapatkan job tambahan sebagai staff data di salah satu perusahaan database di Bandung. jadi jadwalku dulu adalah :

07:00 - 14:00 = Aku memulai hidupku seperti mahasiswa kebanyakan, berkuliah dan berorganisasi
14:00 - 19:00 = Aku bekerja sebagai tukang antar pizza
19:00 - 03:00 = Aku bekerja sebagai staff data
03:00 - 05:00 = waktu untuk tidur.

Aku hanya punya waktu tidur 2 jam dalam sehari. Kira-kira dalam 2 bulanan seperti itu terus keadaanku hingga akhirnya tubuhku ambruk dan tak bisa menahan beban yang melebihi kapasitasnya. Aku masuk rumah sakit dan dokter mengatakan padaku "hey lambungmu lecet, apa yang kamu lakukan? apa kamu tidak pernah makan?" HAHAHAH jawaban dokter tersebut nyaris benar. Aku tetap makan hanya saja porsi makanku aku perkecil untuk menghemat pengeluaranku. Pada hari itu aku di rawat di rumah sakit dan tidak banyak teman yang menjenggukku, karena pada saat itu aku tidak pernah memberitahu pada teman-temanku bahkan pada keluargaku tentang kondisiku pada saat itu. Ada satu orang yang selalu menemaniku saat aku dalam masa perawatan, dia adalah REVA WULANDARI, terima kasih untuk semua yang kamu lakukan.. dan salam hormat dariku untukmu dimanapun kamu berada dan aku percaya someday jika kamu membaca ini. Oh iyah pada saat itu nyaris setengah dari tabunganku habis selama masa pengobatan. dan aku harus berhenti dari pekerjaanku karena alasan kesehatan.

UAS pun datang dan selama sebulan aku benar-benar tidak bekerja, yang kulakukan hanya belajar dan berkuliah serta berorganisasi. Nilai yang kudapatkan cukup memuaskan, dan puji tuhan aku bisa melunasi biaya semster 2-ku.

Setelah UAS, Reva mengajakku untuk sejenak melepaskan beban pikiran yang membelengguku. Nampaknya dia orang yang paham kondisiku meski aku tak pernah bercerita detail hidupku seperti apa. Jikapun terpaksa aku bercerita, selalu aku belokan ceritanya wkwkw maafkan aku temanku.. Selama satu bulan libur semester 1 aku mulai menyukai mendaki gunung, Reva yang mengenalkan semua itu padaku.  Dunia ini sangat indah. Pada waktu itu aku mendaki gunung di daerah Garut yang berikutnya akan menjadi ide kegilaanku yang selanjutnya.

HAL KE- 5 sepulangnya aku dari gunung tersebut, aku melihat salah satu rumah pemotongan ayam dan entah kenapa aku terpikir untuk membuat usaha penyaluran ayam potong, hanya saja taktikku berbeda pada waktu. Aku tidak menyalurkan ayam-ayam tersebut ke pasar, melainkan ke hotel-hotel dan restaurant-restaurant cepat saji. Singkat cerita bisniku berkembang pesat dan omset yang kudapatkan bahkan berkali-kali lipat, jika dulu aku ingin 30 juta harus mengumpulkan selama 4 tahun, maka pada saat itu aku bisa membuat 30 juta tersebut dalam waktu 3 bulan. Reva menjadi sosok yang penting di bisnisku pada saat itu. Dia yang selalu setia bangun jam 3 pagi untuk menjadi co-pilot mobil pick-up yang ku kemudikan menuju arah penerbangan garut-bandung untuk membawa para ayam-ayam tersebut berakhir di meja makan hotel dan restaurant.

Pada saat itu Reva memiliki ide lain, yaitu membuat usaha sayuran yaitu tauge. Aku dan dia sepakat untuk merubah kamarku menjadi gudang penyimpanan dan penanaman tauge. pada saat itu kamarku sangat dipenuhi drum-drum berisi kecambah tauge. hingga menyulitkanku jika aku ingin tidur. aku tidur di sela-sela drum. atau terkadang Reva menawariku tidur di rumahnya karena kebetulan dia tinggal bersama bibinya. Aku selalu menginap di rumahnya jika bibinya tak ada di rumah. eitssss kami tidak melakukan hal yang jelek jika kalian berpikir sesuatu yang aneh. Justru saat aku menginap, kujadikan hal tersebut sebagai waktunya untuk rapat evaluasi bisnis dan startegi bisnis kedepannya.

Bisnisku benar-benar sangat berkembang pada saat itu. Hingga suatu hari yang sebenarnya tak ingin pernah ku ingat dalam hidupku. Reva berhenti kuliah. Dia bercerita jika dia harus pulang ke Kalimantan untuk merawat adik-adiknya dan merawat ibunya yang sakit-sakitan... maaf aku tak ingin menceritakan lebih lanjut bagaimana keadaan keluarganya . Ku hormati keputusannya tersebut dan kubagi dua keuntungan dari usaha kita pada waktu itu. Hari itu hari dimana aku merasakan sepi datang kembali di hidupku. Sejak kepergiannya hari itu Reva tidak pernah bisa kuhubungi lagi. REVA WULANDARI THANKS FOR EVERYTHING.

Sisa semester 2 ku kuhabiskan menjalankan bisnis tersebut sendiri. Namun banyak hal terjadi hingga akhirnya aku harus menyatakan bisnis ayamku benar-benar bangkrut karena beberapa hal. Aku berpikir hidupku harus terus berlanjut, dengan atau atau tanpa dirinya. Kumulai kembali semuanya dari awal, sekarang aku memiliki uang tabungan yang cukup. Di sisa semester 2-ku, aku lebih fokus mengurusi kuliahku dan Komunitas sosial yang kukembangkan. Hingga akhirnya pada hari itu aku terpikir untuk membuat rumah panti bagi anak-anak didikanku, kuhabiskan uang di tabunganku untuk membangun rumah panti impian tersebut dan menyekolahkan beberapa diantaranya. Hingga akhirnya aku berpikir aku harus mengumpulkan uang kembali karena semakin banyak anak-anak yang harus kutanggung. Aku mulai dengan jualan makanan ringan bersama anak-anak pantiku di car free day, atau di objek-objek wisata. Namun kurasa hal itu masih kurang, pada saat itu aku dipercaya untuk menjadi tenaga bantuan lapangan di salah satu project pertambangan. kurasa ini pekerjaan yang lumayan.

Aku serahkan kepengurusan pantiku pada salah satu temanku. Dan aku fokus menjadi pemasok biaya untuk pantiku tersebut. Singkat cerita, aku kenal baik dengan birokrasi di perusahaan. Hingga suatu siang, bos di perusahaan tempatku bekerja menawariku pekerjaan tambahan, yaitu membuat taman buatan di rumahnya. Ku kerjakan hal tersebut karena kurasa bayarannya lumayan dan bisa kusumbangkan pada panti asuhanku. Aku banyak berbincang dengan beliau dan beliau juga seperti sangat antusias mendengar cerita hidupku dan beberapa ide yang ku paparkan pada beliau, hingga akhirnya beliau menawariku beasiswa. Beasiswanya tersebut secara khusus perusahaan berikan dengan beberapa syarat salah satunya, aku harus berkuliah di jurusan geologi. Sejak hari itu aku kehidupanku mulai berubah. Hatiku mulai bimbang, antara tetap tinggal di UIN meneruskan semester 3 ku atau aku memilih pindah ke universitas lain.

Di penghujung semester 2 ku, aku coba untuk mendaftar ke beberapa universitas. singkat cerita aku diterima di beberapa universitas. pada saat itu aku berhasil menembus universitas yang ku inginkan 1 universitas di depok, 1 universitas di malang dan 2 universitas di New Zealand. Keputusan ada di tanganku, pada saat itu aku memilih mengambil universitasku di Malang, karena setelah beberapa pertimbangan aku menyukainya.

Kemalangan mulai terjadi disini, seharusnya aku bisa berpikir fokus pada waktu itu untuk berkuliah di Malang. tapi apa yang kulakukan? hatiku bimbang dan aku melakukan hal yang aneh, yang jika kupikir sekarang, aku merasa "hey kenapa aku lakukan hal bodoh itu?" Jadi yang kulakukan adalah aku berkuliah di Malang tapi pada waktu yang sama aku juga berkuliah di UIN Bandung. Bagaimana aku melakukannya? Jadi yang kulakukan adalah : sebulan aku berkuliah di Bandung dan sebulan aku berkuliah di Malang wkwkwkw itulah yang kulakukan. Kulakukan semua itu hingga akhirnya itu memberikan satu masalah untukku.

Nilai ku di Universitas yang di Malang, mengalami penurunan dan aku terancam DO. aku tidak bisa menyeimbangkan antara keduanya. dan penghujung semester genappun datang tepat pada saat itu aku menginjak semester 2 di universitas ku di Malang. Aku mendapatkan surat DO karena nilai-nilaiku yang tidak memenuhi kompetensi. Disana pihak perusahaan tak ingin rugi, dan mereka meminta kembali uang yang pernah menjadi uang beasiswaku. pada waktu itu aku bingung karena aku harus mengganti uang beasiswa itu yang bernilai cukup sangat besar. Disatu sisi di UIN Bandung, aku menginjak semester 4 dan sama halnya. Di UIN pun aku mendapatkan masalah yaitu aku terkena hukuman cuti paksa karena telat bayar semester, hal itu terjadi karena UIN memajukan tanggal pembayaran semester dari tanggal biasanya dan aku tidak mengetahui informasi tersebut. Hingga akhrinya aku nyaris benar-benar down karena memikirkan hal tersebut

1. aku DO dari Universitasku di malang dan harus mengganti uang beasiswaku pada perusahaan
2. aku mendapat hukuman cuti paksa karena telat bayar semester.
3. uangku tidak mencukup jika harus mengganti biaya beasiswaku tersebut.

Disana aku benar-benar merasa hidupku sekali ada di bawah, jalan semuanya buntu. Hari itu kuputuskan untuk pulang ke rumah di kota asalku sekedar untuk menenangkan pikiranku. Aku bercerita semua masalahku pada ibuku karena pada saat itu ayahku sedang bekerja di luar negeri jadi belum bisa menghubunginya. Ibuku juga tidak bisa berbuat banyak, karena masalahku memang lumayan berat, tapi ibu siap menjual tanahnya demi aku. Disana aku merasa, semua yang kulakukan untuk berdiri sendiri malah serasa membebani orang tuaku.

Aku banyak menghabiskan waktu dirumah, semua masalah tentang uang beasiswa dan kuliah tidak kupikirkan sama sekali, karena setiap kali aku memikirkan hal tersebut itu membuat kepalaku sakit. Selang beberapa minggu, benar-benar tidak disangka tiba-tiba ayah pulang ke Indonesia. Kami sekeluarga bahagia. 1 Bulan ayah dirumah, dia mulai bertanya tentang hal-hal tersebut padaku, akhirnya mau tidak mau aku menceritakan semuanya pada ayah.

Ayah membantuku keluar masalah dari hal itu, dia menyarankanku untuk pindah universitas dan melupakan semuanya yang telah berlalu dan kembali memulai hidup baru. Masalah hutang beasiswa tersebut ayah akan melunasinya. dan aku berjanji suatu hari nanti akan ku ganti uang ayah tersebut.

Petualangan barupun menunggu, pada saat itu aku berusaha belajar sebisa mungkin untuk daftar universitas, aku daftar ke kampus lamaku di Malang hanya saja dengan jurusan yang berbeda, selain itu aku juga daftar universitas negeri di Surabaya. Namun semua itu tidak membuahkan hasil, semuanya tidak lolos sama sekali. tapi aku menolak untuk menyerah, aku berangkat ke Jakarta dan daftar salah satu universitas swasta terkenal di jakarta, selain itu aku juga daftar ke Universitas Jenderal Achmad Yani yang menjadi kampus ku sekarang, lalu aku juga daftar ke universitas di Australia. dan puji tuhan semua membuahkan hasil. akhirnya aku memilih universitas jenderal achmad yani karena aku rasa ini yang paling murah diantara semuanya dan bisa aku biayai dengan uangku sendiri.

BERSAMBUNG....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRAININGKU, TRAININGMU DAN YPBB

About